Featured

First blog post

This is the post excerpt.

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Mertuaku Bukan Nabi

Siapa pula yang tahu masa depan? Siapa pula yang tahu teka-teki hidup? Siapa pula yang mampu menerka puzzle takdir ke depannya? Jawabannya; dipastikan Dia.

Begitulah teka-teki kehidupan Nabi Musa. İa awalmula mana tahu akan menikah sehabis dikejar-kejar serdadu Firaun, karena tak sengaja menoel salah satu anggota serdadu Firaun.

İa hanya ingin menengahi perkelahian antara serdadu Firaun dan salah satu rakyat Bani Israil. Akan tetapi, entah kenapa, hanya sedikit didorong oleh Musa, serdadu itu mati. Dikejarlah Musa hingga ia lari ke Madyan.

Menderu napasnya di perbatasan negeri sambil terbungkung memegang kedua lutut. Lalu menoleh ke belakang, serdadu Firaun sudah jauh meninggalkan punggungnya.

İa lantas berjalan ke jantung negeri itu, dan menemukan rubung orang berebut mengambil air dari sumur untuk kambing-kambing mereka.

Di tengah rubung itu, dua wanita susah payah menggapai air dengan timbanya sebab mereka selalu disikut, direbut antreannya oleh para lelaki bertubuh besar. Hei, perhatikan, inilah awal mula puzzle cinta itu akan sempurna.

Musa menyibak rubung, hendak menolong dua wanita itu.

“Sini, aku saja yang ambilkan.” Musa menjulurkan tangan, meminta timba dua wanita itu.

“Terimakasih. Kalau tidak ada kau, mungkin kami tidak akan dapat air untuk kambing-kambing kami. Ayahku tidak mampu lagi, ia sudah dimakan umur.” Salah satu wanita berkata sehabis Musa mengambilkan air dari sumur.

Musa menggangguk.

“Kalau mau, kau bisa mampir ke rumah kami, sekadar meminum teh,” wanita satu lagi menawarkan, sebagai tanda rasa terimakasih. Lalu diyakinkan oleh anggukan wanita pertama.

Musa menerima tawaran itu.

Sampai di rumah, dua wanita itu mempersilakan Musa düdük sambil menunggu teh jadi.

“Berilah upah untuknya, Yah. Dia itu pemuda tangguh dan jujur.” Dua wanita itu bercerita tentang kejadian tadı setelah teh telah diberikan ke Musa. Lantas menyuruh Musa menunggu, dan ke kamar ayahnya.

“Bagaimana kalian tahu dia pemuda kuat?” Ayah mereka bertanya, memastikan.

“Aku lihat sendiri ia mengangkat batu yang tidak mampu diangkat oleh sepuluh orang lelaki.” Anak pertama menjawab.

“Bagaimana kalian tahu dia pemuda jujur?” Ayahnya kembali memastikan.

Ia menolak untuk berjalan di belakangku dan ia berjalan di depanku sehingga ia tidak melihatku saat aku berjalan. Dan selama perjalanan saat aku berbincang-bincang dengannya, dia selalu menundukkan matanya ke tanah sebagai rasa malu dan adab yang baik darinya.” Anak yang kedua kali ini menjawab.

Lengang langit kamar ayah dua wanita itu, memikir, lantas ayahnya mengangguk dan keluar bertemu Musa.

Wahai Musa, aku ingin menikahkanmu dengan salah satu putriku. Dengan syarat, hendaklah engkau bekerja menggembala kambing bersamaku selama delapan tahun. Seandainya engkau menyempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah kemurahan darimu. Aku tidak ingin menyusahkanmu, sungguh insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang saleh.”

Ini adalah kesepakatan antara aku dan engkau, dan Allah SWT sebagai saksi atas kesepakatan kita, baik aku akan melaksanakan pekerjaan selama delapan tahun maupun sepuluh tahun. Setelah itu, aku bebas untuk pergi ke mana saja.”

Akhirnya puzzle cinta itu sempurna. Dan perlu diketahui, mertua Musa itu bukan nabi. Namanya memang persis; Syuaib. Daerahnya pun sama; Madyan. Akan tetapi jarak waktu Nabi Syuaib dengan Nabi Musa jauh sekali. Maka jadilah, menantu Musa itu bukan nabi, akan tetapi hanya seorang tua yang berasal darı Madyan.

Kupilih Dia Bukan Kau

Hei, kalian tahu kan, jodoh itu seperti cermin? Yang baik untuk yang baik, yang akan menjadi baik, untuk yang akan menjadi baik. Lantas ada pasangan yang sebaliknya; orang baik dipasangkan oleh langit dengan orang yang jahat.

Asiyah contohnya. Asiyah adalah wanita beriman, meski keimanannya lebih benderang ketika melihat tongkat sakti Nabi Musa mengalahkan para dukun suaminya.

Sebelum itu, sejatinya Allah sudah memancarkan cahaya iman dalam hati Asiyah, sehingga ia mau merawat Musa kecil kala itu, bahkan harus berdebat hebat dengan Firaun, La (bukan Lc).

“Dengan anak ini, kau dan aku akan bahagia. ” Awal mula Asiyah membujuk suaminya, La.

“Hai bobrok! Aku yang menyuruh serdaduku untuk membunuh bayi lelaki malah kau yang hendak merawatnya, kau bobrok sekali!” Firaun, La berseru menggentarkan langit istana.

Butuh waktu lama membujuk si La. Dan pada akhirnya, hei, lihatlah, hati sekeras besi pun bisa luluh dengan wanita. Padahal si La itu mengaku Tuhan yang paling hebat. Tapi Asiyah mampu meluluhkan La; itulah pertolongan Allah.

Dalam diam, wanita mulai ini menjaga iman. Susah payah ağar tidak ketahuan La. Namun, akhirnya harum iman Asiyah tercium. Asiyah dikasih pilihan; tetap bersama suamianya dan segala harta, atau iman kepada Allah.

Tidak mudah meruntuhkan iman seorang jika Allah sudah mencintainya. Asiyah memilih Allah daripada suaminya meninggalkan segala harta dan mahkota berlian.

Hingga akhir cerita, Asiyah disiksa di gurun pasir bermataharikan jemawa. Dua pasang tangannya diikat sehingga ia hanya terkulai.

Akan tetap jika Allah mencintai hamba, maka Dia tidak akan pernah meninggalkan hamba. Asiyah ditolong oleh-Nya; dengan sayap-sayap malaikat membentang, melindungi Asiyah dari sengatan matahari.

Di detik-detik akhir.

Di tengah siksaan yang dilimpahkan kepadanya, Asiyah berdoa “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.

Maka Allah Swt mengabulkan doanya, diperlihatkanlah rumah dari mutiara putih untuknya di surga kelak. Melihat hal tersebut, Asiyah pun tertawa. Fir’aun heran terhadap tingkah istrinya dan berkata “Apa kalian tidak heran dengan kegilaannya? Kami menyiksanya tetapi ia malah tertawa”.

Lantas sıksa Asiyah semakin jadi, ia dijemput malaikat dengan kereta kencana untuk bertemu Sang Muhibbah.

Mawar Surga

Waktu terus mengalir ke hilir. Pelita rumah tangga Ali dan Fatimah semakin lama semakin benderang, meski hanya tinggal di rumah 5×5. Cintalah yang menerangi rumah mereka. Apalagi setelah hadirnya dua buain hati, penyejuk mata; Hasan dan Husein.

Selama menjadi kekasih Ali, Fatimah tak pernah meminta yang tidak bisa disanggupi Ali. Bahkan, ketika Fatimah menikah dengan Ali, maharnya hanya baju besi. Sungguh indah sekali akhlak putri Nabi ini. Tidak memahalkan mahar


Wanita baik; tidak mempersulit mahar.

Dan lelaki baik; tidak mempermudah mahar.


Mereka pun tidak pernah makan enak, hanya roti dibagi empat. Mereka bahkan tidak tahu mau makan apa esoknya. Kalau tidak ada makanan, mereka akan berpuasa.

Wanita penghuni surga ini tidak tak pernah mengeluh. Tak pernah bertengkar dengan suaminya. Malah ia selalu tersenyum madu di wajah Ali, Hasan dan Husein.

Terlepas itu semua, ketika Fatimah duduk santai di pelataran rumah bersama Asma binti Khumaisy, ia melihat jenazah wanita lewat digotong para lelaki.

Lantas sekonyong-konyongnya ia menangis hebat. Heran Asma, kenapa Fatimah jelita ini menangis tiba-tiba? Apa hal?

“Aku menangis, sebab aku takut di posisi jenazah itu. Semua orang akan wafat dan dibungkus dengan kafan lalu beramai-ramai dibahu ke pemakaman.” Fatimah sedu-sedan.

“Fatimah… Bukankah semua orang akan seperti itu?” Asma menyandarkan kepala Fatimah ke bahunya.

“Tapi aku takut, ketika aku mati; aku akan digotong oleh banyak orang. Dan lebih takut lagi, kain kafan itu dieratkan ke tubuhku hingga memperlihatkan lekak-lekuk tubuhku. Aku malu, Asma! Malu diri ini pada-Nya. Malu kepada mereka yang melihat tubuhku.” Tangisnya pecah di langit-Nya.

Asma menghela napas pelan, ikut suasana itu. “Baiklah. Di seberang negeri, ada orang-orang membawa jenazah dengan kotak, muat untuk membawa manusia, orang sana bilangnya; peti. Ketika waktu itu tiba, kau bisa menggunakan peti itu.”

Fatimah berhenti menangis, tenang dengan solusi Asma.

“Aku boleh meminta satu lagi, Asma?”

“Apa?”

“Jika ajalku tiba, maka kuburkan aku di malam hari. Hal itu membuatku semakin tenang. Sehingga tak seorang pun mampu melihat lekak-lekukku ketika aku diturunkan ke lihat lahat.”

Asma menghela napas lagi. Mengangguk, dan mendekap Fatimah semakin erat.

Akhirnya waktu itu tiba. Mawar itu kembali ke taman asalnya.

Meski sudah layu di dunia, tapi tetap bermekar namanya. Semerbak aromanya mengharumi bumi.

Mawar Surga elok itu bermekaran di sana. Taman surga semakin indah akan kehadirannya.

Tidak Ada yang Tahu Sekalipun Setan

Sudah lama cinta dalam hatinya bergebu-gebu–sejak tinggal bersama Nabi. Kinilah saatnya yang tepat, Ali harus katakan hal ini pada Nabi. Akan tetapi urung, Ali kalah start, Abu Bakar sudah di ambang pintu rumah Nabi hendak melamar Fatimah. Kecewalah Ali. Ia sudah pasrah, lamaran Abu Bakar pasti diterima. Abu bakar sahabat karib Nabi; membela Nabi dengan harta dan darah, sedangkan Ali? Siapa? Hanya pemuda tanpa harta, mana mungkin Nabi menerimanya.

Sedemikian detik berlalu, Abu Bakar keluar. Entah apa hasilnya, Abu Bakar menjumpai Ali di luar rumah Nabi. Sambil menepuk akrab bahu Ali dan tersenyum madu, Abu Bakar bilang, “Nabi hendak berjumpa dengan kau. Dan untuk masalah aku melamar Fatimah, itu ditolak Nabi dengan lembut.”

Hei, lihat, kenapa Nabi menolak Abu Bakar? Akan tetapi belum genap rasa legah itu, Umar datang berkeinginan sama, mempersunting Fatimah. Ali kembali pasrah, dan berpikir, Umar pasti diterima

Sedemikian menit tertinggal, Umar keluar. Tak disangka, Umar ditolak juga. Hei, apa yang terjadi? Abu Bakar dan Umar ditolak, apa alasannya? Apa cinta serumit ini? Hingga Nabi menolak dua sahabatnya itu?

Tanpa ba-bi-bu, Ali segera masuk ke rumah Nabi, sebelum yang lain datang. Dan lihatlah, ini cinta. Cinta mempertemukan dua pasang insan ini. Nabi tersenyum ketika Ali mengatakan akan melamar Fatimah.

Tetapi keputusan tetap di hati Fatimah, Nabi bertanya darı luar kamar Fatimah, apa ia menerima lamaran Ali?

Menunggu jawaban Fatimah, Hati Ali bergendang kencang sekali, hampir merobek dadanya. Dan, akhirnya jawaban itu datang, Fatimah diam, tidak menjawab, pertanda menerima Ali.

Malam pertama, di atas bintang-gemintang, dua pasang kekasih itu berbincang sebelum beribadah suami-isteri.

“Akhirnya, cintaku menjadi suci.” Ali mendekatkan wajahnya dengan wajah Fatimah, bahkan dekat sekali, sehingga napas Fatimah terasa oleh Ali.

“Aku juga. Cintaku sekarang sah. Dihalalkan oleh Tuhan. Akan tetapi, ijinkan aku memberi tahu rahasiaku.” Fatimah lamat-lamat menatap mata Ali.

Ali mengangguk.

“Sebelum menikah dengan kau, aku menyukai pemuda hebat. Tampan. Sholeh.” Fatimah kini membuang pandangannya dari Ali, takut Ali marah.

Ali terperanjat. Meski tidak marah, Ali sedikit cemburu. Ternyata sebelum ini Fatimah sudah jatuh hati dengan pria lain. Siapa pria itu? Ali penasaran.

“Siapa pria itu, Fatimah?”

Fatimah menahan tawa. Dan terlepas dua detik kemudian melihat wajah Ali memerah.

“Hei, kenapa tertawa?”

“Sudah kuduga, kau pasti cemburu.”

Ali salah tingkah. Menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Tenang, pria itu sekarang menjadi suamiku. Kaulah pria itu, Ali.” Fatimah mengalungkan tangan leher ke Ali. Mendengarkan itu Ali membalas kalungan tangan Fatimah dan berkata, “Kau pandai menggodaku, Fatimah. ” Keduanya tertawa dalam kebahagian hakiki. Dalam kelambu cinta suci.

Kisah cinta Ali dan Fatimah, yang sekuat hati menahan rasa cinta hingga tiba waktunya. Tidak ada yang tahu sekali pun setan, yang menyesal sebab cinta itu kini sudah menjadi kisah yang dikagumi banyak pemuda.

Wanita Nil Nabi Muhammad

Salah satu upaya Nabi agar cahaya Islam bersinar hingga ke penjuru dunia; beliau mengirim surat untuk Pemimpin Muqauqis.

Dalam surat itu, Nabi mengajak Raja agar masuk Islam; jikalau menerima, Allah akan membalas lipat ganda, jika tidak, maka Raja akan menanggung dosa seluruh warga Qibti.

Raja menolak ramah, tidak ingin masuk Islam. Meminta maaf. Alasannya, karena Nabi bukan dari Syam tapi berasal dari Arab. Dan Raja mempercayai nabi terakhir berasal dari Syam.

Tetapi Raja ini baik, surat balasan itu tidak diantar sendiri, Raja memberi hadiah dua budak untuk Nabi; Maria dan Syrin.

Dan pada akhirnya, setelah Hudaibiyah Nabi menikah dengan Maria. Syirin dengan Hasan bin Tsabit, penyair hebat pada masa itu.

Wajah Maria seperti rembulan yang tenggelam ke dalam hati Nabi. Cantik. Muda.

Apalagi ketika perut Maria membesar. Ia hamil. Lama sekali Nabi tidak menimang anak kandung. Senang tak terhingga ketika Ibrahim nama yang diakikahkan Nabi.

Namun, wajah cerah Nabi segera ditutup oleh awan mendung. Ibrahim meninggal dunia. Masih umur jagung. Wajah Nabi deras oleh air mata. Hati Nabi banjir oleh kesedihan. Tapi Nabi menerima ketetapan itu. Kehilangan Ibrahim seperti kehilangan Khadijah.

Kebenciaan Shafiyah Menjadi Cinta

Umat Islam mengibarkan panji sehabis perang melawan Yahudi. Kalimat tauhid terkembang di langit Khaibar.

Shafiyah binti Huyay, menjadi tawanan umat Islam, dan benci sekali pada Nabi. Bilang kalau Nabi itu jahat dan kata-kata mencerca Nabi lainnya.

Bagaimana tidak benci, ayah, saudara, dan suami Shafiyah tewas di pedang umat Islam.

Tapi lihat, di sini hebatnya Nabi, di sini kebenciaan itu menjadi cinta. Dengan akhlak mulia Nabi mendatangi Shafiyah, “Maafkan aku Shafiyah, seluruh orang tersayang kau terbunuh.” Nabi dengan rendah hati meminta maaf. “Aku sudah membujuk ayah, saudara, suami kau berdamai, tapi mereka menolak keras. ” Sekali lagi Nabi merasa bersalah. Padahal dalam perang itu aturan mainnya jelas, dan benar, jika ada yang mati maka tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Tapi kenapa pula Nabi yang meminta maaf? Itulah Nabi, egonya rendah, meminta maaf padahal beliau tidak salah.

Berkali-kali Nabi meminta maaf di depan wajah Shafiyah merasa bersalah. Berkat akhlak mulia itu, Shafiyah luluh dengan Nabi. Lantas, ia mengangguk memaafkan Nabi.

Nabi sangat bahagia mendengarkan kalimat Shafiyah dan menawarkan Islam padanya. Shafiyah mengangguk lagi menerima tawaran Nabi. Dan, Nabi juga menawarkan Shafiyah agar ia menjadi isterinya, Shafiyah mengangguk menerima tawaran itu.

Romantis sekali cara Nabi, dengan akhlak bisa meluluhkan wanita yang awalnya sangat benci padanya.

Shafiyah adalah wanita tercantik, bahkan riwayat bilang, ia adalah wanita tercantik di dunia. Membuat isteri Nabi lainnya terbakar api cemburu. Terutama Hafsah menghina Shafiyah,”Oi, anak Yahudi!”

Terlepas itu semua, Nabi adalah pemimpin hebat. Meminta maaf meski beliau tidak salah. Patut saja Soekarna lantang berkata di depan mimbar bahwa Nabi Muhammad adalah pemimpin hebat.

Ummul Mu’minin

Lentera rumah tangga Nabi sedikit redup selepas Khadijah wafat. Sedih sekali Nabi saat itu. Pujaan hati pergi meninggalkannya di dunia–menunggu di akhirat.

Aisyah-lah yang membuat hati Nabi kembali berbunga. Kalau Khadijah keibuan, beda lagi Aisyah yang enerjik dan jelita. Hanya Aisyah yang dinikahi Nabi saat gadis.

Banyak yang mengatakan bahwa Nabi menikahi gadis di bawah umur. Pelecehan terhadap anak. Padahal itu wajar. Bukankah dahulu kakek-nenek kita menikah saat SD?

Lagi pula, Amr bin Hisyam (Abu Jahal)tidak mempersalahkan hal ini. Kalau ia mempersalahkan, pastilah ia sudah mencela, menghina Nabi, tapi ini tidak.

Hal lainnya, Arab adalah negeri gersang, panas sehingga membuat hormon wanita sana matang tidak sesuai waktunya.

Jika masih ada yang menyerang Nabi, maka seranglah mereka dengan beberapa amunisi ini.

Nabi menikahi Aisyah karena mimpi. Beliau bermimpi Aisyah tiga malam berturut. Dalam mimpi itu hadir malaikat, lantas membuka tirai dan mengatakan ini adalah isterimu, Muhammad.

Romantis sekali petunjuknya. Aisyah sangat mencintai Nabi, dan sangat cemburu ketika Nabi masih mengingat Khadijah di depan wajahnya.

Begitu pun Nabi. Ketika Aisyah marah kepada Nabi sejadi-jadinya, Nabi hanya diam, tidak mengeluarkan dalil apa pun. Nabi saja yang punya dalil tidak mengeluarkan dalil ketika isterinya marah, beliau hanya membalas dengan sikap dan akhlak.

Abu Bakar yang mengetahui hal ini marah kalap kepada Aisyah hendak menampar Aisyah. Tapi Nabi tahan dan bilang, ini isteriku, Abu Bakar.

Aisyah wanita cerdas, termasuk salah satu tujuh periwayat hadist terbanyak. Para sahabat bertanya padanya setelah Nabi wafat.

Saat Nabi sakit dan bertanya di mana aku tidur selanjutnya, lantas para isteri Nabi lainnya membiarkan Nabi tidur di bilik Aisyah. Sampai Nabi wafat di pangkuan Aisyah.